kamunaku.com

Kopdar KEB Bogor, 22 Desember

Monday, December 23, 2013
Banyak wajah emak-emak yang asing buat saya di kopdar KEB Bogor kemarin. Lalu timbul ide saya untuk mengambil foto satu persatu emak2 yang hadir. Tetapi karena saya kedinginan dan kelaparan (dingin bikin lapar ya, mak) tidak semua emak berhasil saya "jepret", maaf ya emak yang ngga kebagian.
Ini dia merekaaaa....

FB: Ranii Saputra
@khiranii
Http://Raniisaputra.blogspot.com
FB: Napitupulu Rodame
@deim_21
Http://rodamemn.wordpress.com
FB : Anita Handayani Depok
@anitaahandayani
Http://anitanet.staff.ipb.ac.id
Http://anita-handayani.blogspot.com
FB: Mia fauzia
@mcfauziah
Http://kacamatamia.blogspot.com
FB: Dyah Pitaloka
@pitalokalove
http://azrakulove.blogspot.com

FB:  Anis

FB: Riana Wulandari
@EmakRiweuh
Http://emakriweuh.blogspot.com
Sofia
@fhy_shofy
Http://sofia-zhanzabila.blogspot.com
FB:  Dessy Yusnita
@nita_noty
Http://dessycherryponie.blogspot.com
Melly Feyadin
@melfeyadin
Http://margeraye.blogdetik.com
FB: Cucuthnya Echa
@catatansicucuth
Http://catatansicucuth.blogspot.com
Fb: Ia Alginat
@iaAlginat
Http://iaalginat.blogspot.com
Winny Widyawaty
@Win_nyy
Http://Zaffara.wordpress.com
FB: Fadlun Arifin
@f4qihku
Http://blogfarissa.blogspot.com
Dan ini dia bintang tamunya, makmin2 keceh...



















MakPon ngga sempet di foto krn sibuk ngitung ongkos pulang :)



Sampai ketemu lagi di kopdar-kopdar beriktnya ya, mak....

Ibu, Cinta Tanpa Akhir

Sunday, December 22, 2013
Ibu. sosok yang hampir selalu dilukiskan indah oleh sejarah. Banyak kisah yang menceritakan tentang istimewanya seorang ibu. Cintanya yang abadi sepanjang waktu. Sejak kita kecil, atau bahkan ketika masih dalam kandungannya, ibu sudah menyambut kita dengan bahagia. Mengelus kita yang berada dalam perutnya, menyusui kita yang menangis kehausan, menuntut ke sekolah pertama kita, bahkan sampai mengancingkan baju kebaya di hari pernikahan kita. Adakah kasih sayang yang terlewatkan oleh kita darinya?

    Beberapa bulan yang lalu, sahabat saya menelpon, meminta saya menemuinya di sebuah restoran. Terdengar nada suaranya tidak seperti biasa. Karena terakhir aku menerima teleponnya dengan nada tak biasa, ketika ia memberitahu mamanya meninggal dunia, itu lima tahun yang lalu. 
    
    Singkatnya, saya berhasil bertemu dengannya. Dia duduk dalam restoran, memilih posisi sofa agak tertutup oleh pengunjung yang masuk dalam restoran itu. Saya pun mungkin tak melihatnya kalau pramusaji restoran itu tidak memberitahu saya.

     Dengan nada datar ia bercerita, bahwa ada seorang perempuan yang mengaku sebagai ibu kandung, setelah satu tahun kematian mamanya. Saat itu saya agak kaget mendengarnya, tapi karena sahabat saya tidak bereaksi apapun, saya memilih diam. Yang saya tau selama ini, sahabat saya itu adalah anak tunggal. Orangtuanya, papa dan mamanya bekerja sebagai pegawai negeri. Saya pernah bertemu mereka. Keluarga yang kelihatannya biasa saja, sama seperti keluarga2 kebanyakan. 
          
      Saat ia bercerita, saya hanya mampu memegang tangannya. Saya tidak tau apa yang harus saya katakan, padahal saya khawatir emosinya memuncak kala ia menangis. Tetapi saat tangisannya mereda, ia hanya bilang,"Semua ibu kan sama ya, Wi."
"Mungkin aku marah ketika perempuan itu mengaku-ngaku sebagai ibu kandungku. Kemana saja ia selama ini? Tapi apakah pantas aku marah? Ia tak menuntut apapun dariku. Atau patut aku benci mamaku, karena sampai ajalnya beliau tak memberitahu yang sebenarnya? Tidak. Beliau yang merawat aku sejak kecil."
     
     "Tapi, masih ada papamu. Kamu bisa bertanya hal yang sebenarnya."
    
     "Aku tak tega menyakiti hati ayah. Biarlah, akan ku rawat ibu ini. Mungkin dia yang telah melahirkanku, walau kemudian memisahkan aku darinya. Akan tetapi pilihannya tepat,  dia menitipkan aku pada mama yang menyanyangiku, aku harus berterimakasih."

      Saya terkesiap. Saya yakin dalam darah sahabat saya mengalir kasih sayang, sama seperti sosok kedua ibunya.
Kadang kita tidak mengerti apa yang dipikirkan oleh orangtua kita, terlebih ibu. Tapi yang pasti, seorang ibu akan selalu mempunyai keputusan yang terbaik buat anaknya. 

Selamat Hari Ibu....

Film Sukarno - Napak Tilas Kemerdekaan Bangsa Indonesia

Saturday, December 14, 2013
Sutradara : Hanung Bramantyo
Pemain : Ario Bayu, Maudy Kusnaedi, Lukman Sardi, Tanta Ginting, Tika Bravani, Ferry Salim.
Genre : Drama Perjuangan
Durasi : 2,5 jam

Tahun 1943-1945 merupakan tahun-tahun paling menegangkan yang harus dihadapi oleh rakyat Indonesia. Hidup dalam ketidakbebasan di masa penjajahan Belanda berganti penindasan dalam jajahan Jepang. Setelah hampir sekian tahun hidup dalam penjajahan dan berjuang, akhirnya rakyat Indonesia bisa merasakan kemerdekaan dengan dibacakannya teks proklamasi oleh Sukarno.
Rasa nasionalisme Sukarno yang sudah terlihat sejak ia kecil berkembang hingga dewasa, dan kemudian mampu membawa rakyat Indonesia menuju kemerdekaan. Betapa kuat kharisma Sokarno di mata semua rakyatnya. Termasuk di mata Syahrir, salah satu pemuda yang selalu mempunyai pandangan berbeda dengan Sukarno.

Selain munculnya tokoh-tokoh penting dalam masa itu, dalam film ini dimunculkan juga sosok Inggit Ganarsih. Mungkin tidak banyak yang mengetahui peran istri kedua bung Karno ini, yang setia menemaninya selama masa pengasingan Belanda. Sosok yang sederhana nan sabar tetapi harus menyingkir juga karena kehadiran Fatmawati.

Permainan para pemain dalam film ini tampaknya akan segera jadi perbincangan banyak orang. Film perjuangan seperti ini sebenarnya saya suka, karena unsur sejarahnya yang bisa membangkitkan kembali jiwa nasionalisme anak bangsa serta membuat generasi muda menghargai perjuangan  pahlawan bangsanya. Mencoba membayangkan jika kita berada pada tahun itu. Menapak tilas kemerdekaan bangsa dicampur romansa cinta sang proklamator.

***

Undangan dari SunCo untuk nonton bareng Kumpulan Emak Blogger kali ini berasa beda. Tidak ada acara masak memasak, goreng menggoreng, atau cicip mencicip resep. Tetapi bukan KEB namanya kalau tidak bisa menghidupkan acara kopdar apapun :)