kamunaku.com: Film : Cyberbullying : Neira dan luka yang tak terlihat

Film : Cyberbullying : Neira dan luka yang tak terlihat

Sunday, July 6, 2025

Sebagai seorang ibu yang aktif membuka media sosial, mawii sadari betul bahwa dunia maya bukan selalu cerminan siapa kita sebenarnya. Di sana, orang bisa memilih menjadi versi terbaik dari dirinya, atau justru memakai topeng untuk melukai siapapun/apapun tanpa rasa bersalah.

Saat mendapat undangan dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) untuk menghadiri screening film bertema cyber bullying, mawii berharap ini bukan sekadar tontonan, tapi panggilan untuk memahami lebih dalam soal luka yang sering dianggap sepele hanya karena “itu kan cuma di dunia maya.”

Lewat tulisan ini, mawii hanya ingin berbagi pengalaman saat menonton film tersebut. Bukan hanya tentang cerita dalam layar, tapi juga pesan-pesan kuat yang bisa membuka mata dan hati kita semua. Sehingga kita bisa sadari bersama bahaya cyberbullying itu berdampak besar, apalagi untuk anak-anak.

Cyberbullying: Neira dan Luka Yang Tak Terlihat

Film yang diputar dalam acara screening bersama Kominfo ini mengangkat kisah seorang remaja perempuan bernama Neira, siswi SMP yang awalnya aktif dan percaya diri, terutama di media sosial. Ia dikenal cerdas dan ambisius, salah satunya saat mengikuti lomba Spelling Bee, ajang yang ia impikan untuk menang.

Namun, dunia tak selalu berpihak. Ketika ia kalah, bukan hanya kecewa yang harus ditelan, tapi juga banjir komentar jahat dari teman-teman online-nya.

Di titik itulah segalanya berubah. Aktivitas media sosial yang dulunya menyenangkan, kini menjadi sumber luka batin. Komentar yang menyudutkan, mengejek, bahkan merendahkan membuat Neira terpuruk secara emosional.

Sebagai bentuk perlindungan, orang tuanya akhirnya memutuskan untuk memindahkan Neira ke sekolah di kampung (jauh dari lingkungan sebelumnya), dengan harapan bisa menyembuhkan luka sekaligus memulai kembali dari awal.

---

Ketika Dunia Menjatuhkanmu, Siapa yang Mengangkatmu?

Film ini tidak hanya mengajak kita melihat realita pahit dunia maya dari kacamata anak-anak, tapi juga mempertanyakan:

Apa yang terjadi jika anak seusia Neira dijatuhkan di ruang publik yang seharusnya belum siap ia hadapi?

Kisah Neira adalah cerminan dari banyak anak muda saat ini. Mereka tumbuh di tengah validasi digital, di mana like dan komentar menjadi tolok ukur harga diri. Ketika satu kegagalan kecil diperbesar di internet, dampaknya bisa sangat besar.

Namun yang paling menyentuh dari film ini adalah pesan tentang harapan. Bahwa meskipun dunia menjatuhkan kita, masih ada ruang untuk pulih. Selama kita punya dukungan, waktu, dan keberanian untuk memulai kembali.

Kisah Neira mungkin hanya bagian dari film. Tapi di dunia nyata, ada banyak “Neira-Neira” lain yang sedang berjuang diam-diam. Mungkin mereka teman sekolah kita, anak tetangga, atau bahkan anak kita sendiri.

Cyber bullying bukan sekadar urusan “anak-anak yang baper”, tapi persoalan serius yang bisa merusak mental, masa depan, dan bahkan nyawa.

Sebagai orang dewasa, baik orang tua, pendidik, teman, atau pengguna internet aktif, kita bisa memilih untuk tidak tinggal diam. Kita bisa mulai dari hal sederhana: berpikir sebelum berkomentar, mendengarkan sebelum menilai, dan bertanya sebelum menyebarkan.

Dunia digital bisa jadi tempat yang kejam, tapi juga bisa jadi ruang penyembuh, asal kita mengisinya dengan empati. Jaga anak-anak kita. Kita tak bisa selalu mengontrol apa yang diketik orang lain, tapi kita bisa mengontrol apa yang kita pilih untuk bagikan, dukung, dan diamkan

Dunia digital mungkin maya, tetapi dampaknya sungguh nyata. Mari jadi bagian dari ruang yang lebih aman. Dimulai dari kita sendiri
                                    

No comments:

Post a Comment