kamunaku.com: Trekking Curug Cibeureum

Trekking Curug Cibeureum

Friday, May 22, 2026

Februari 2025, trekking ke Curug Cibeureum. Ini adalah kedua kali saya trekking ke sini. Kali ini bersama anak lelaki saya. Sebelumnya pernah ke sini dengan teman-teman yoga, jadi jalurnya sebenarnya sudah cukup familiar.

Awalnya maWii pikir dia mengajak seperti trekking biasa aja, seperti jalan pagi santai menikmati hutan, karena kami kalau trekking ya santai (selalu deket² sih). Sampai di tengah perjalanan, sambil trekking melewati jalur batu dan tanjakan, dia mulai cerita kalau ingin naik Gunung Gede bersama teman-temannya.

“Kalau kuat sampai Cibeureum, harusnya naik Gede juga aman kan, Ma?”

Nah, di situ saya baru sadar. Ternyata kesediaannya menemani trekking ini ada maksudnya juga: sedang cari restu dari ibunya 🤭.

Perjalanan kami dimulai pagi dari arah Bogor menuju kawasan Cibodas. Kalau dari jalur Puncak, setelah melewati Cipanas dan Istana Cipanas, nanti ada pertigaan menuju Kebun Raya Cibodas.

Nah, pintu masuk trekking Curug Cibeureum berada di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, persis bersebelahan dengan Kebun Raya Cibodas.

Kami parkir di area dekat pintu masuk wisata Cibodas. Waktu itu parkiran cukup luas dan tertata. Setelah itu bayar tiket masuk. Seingat saya memang ada beberapa kali pembayaran: tiket kawasan wisata, tiket masuk trekking, dan parkir kendaraan. Tapi untungnya selama perjalanan saya tidak merasa ada pungli aneh-aneh. Semuanya resmi di loket. Untuk kisaran tiket saat itu sekitar 17 ribu sampai 21 ribu per orang, tergantung hari biasa atau akhir pekan.

              

Begitu masuk jalur trekking, suasananya langsung berubah jadi adem khas hutan pegunungan. Jalurnya menurut saya cukup ramah untuk pemula. Banyak keluarga juga yang trekking ke sana. Treknya memang menanjak, tapi tidak ekstrem. Jarak menuju curug sekitar 2 kilometer-an dari pintu masuk dengan estimasi 1–2 jam jalan santai.

Karena ini termasuk salah satu jalur pendakian Gunung Gede juga, jalannya sudah cukup jelas dan tertata. Bahkan beberapa bagian sudah berupa paving batu. Jadi buat yang baru pertama trekking masih sangat memungkinkan, asal pakai alas kaki nyaman dan jangan buru-buru.

Di tengah perjalanan kami melewati Telaga Biru, danau kecil yang kadang airnya terlihat biru kehijauan tergantung cahaya dan kondisi alga di dalamnya. Tempat ini jadi spot istirahat favorit sebelum lanjut trekking.

Saya masih ingat waktu itu kami sempat duduk sebentar beristirahat. Bahkan ada rombongan anak-anak muda yang lesehan membuat kopi dengan peralatan yang.mereka bawa. "Ini kayaknya pada mau naik.ke gunung gede", bisik saya ke anak. Edia malah mulai cerita tentang teman-temannya yang sudah pernah summit Gunung Gede. Saya mendengarkan sambil sesekali pura-pura tidak terlalu khawatir, padahal dalam hati mulai menghitung kemungkinan dia naik gunung dalam waktu dekat.

Di tengah perjalanan, sebelum sampai danau, kami sempat bertemu satu penjual makanan sederhana di pinggir jalur. Bukan warung permanen, hanya gelaran terpal kecil dengan meja seadanya di tengah hutan. Tapi justru itu yang terasa khas.

Sambil menawarkan kopi dan mie instan, bapaknya juga jadi penyemangat para pendaki.

“Setengah jalan lagi, Bu…”

Eeaaa...

Sebelum sampai curug, kami juga melewati jembatan panjang di atas rawa yang terkenal sebagai Rawa Gayonggong. Pemandangannya cantik sekali. Hutan rapat, udara dingin, dan suara burung yang sesekali terdengar jelas

Begitu sampai di Curug Cibeureum, capeknya langsung hilang. Air terjunnya tinggi dengan tebing gelap berlumut di sekelilingnya. Di area curug ada beberapa warung kecil untuk beli minuman atau makanan ringan. Ada juga toilet, walaupun menurut saya kebersihannya masih kurang dan jangan berharap terlalu nyaman ya namanya juga di area hutan.

Yang saya suka, tempatnya tetap terasa alami.

Kami duduk cukup lama di batu besar sambil menikmati suara air. Anak saya beberapa kali memotret sekitar, sementara saya asyik menikmati cipratan air terjun. Udara di sana dingin sekali, ditambah cipratan bulir-bulir air yang terbawa angin terasa menyegarkan wajah dan tangan. Katanya, udara di sekitar air terjun juga kaya akan ion negatif alami yang dipercaya bisa membantu tubuh terasa lebih rileks dan segar. Entah sugesti atau memang efek alam pegunungan, tapi setelah duduk cukup lama di dekat curug, badan rasanya lebih ringan dan pikiran jadi tenang.

Perjalanan turun justru jadi bagian paling berkesan hari itu.

Di tengah jalan kami berpapasan dengan rombongan artis dan kru film Petaka Gunung Gede yang baru selesai naik. Awalnya saya cuma merasa wajah beberapa orang familiar, sampai akhirnya anak saya nyeletuk, “Mah itu kayak pemain film deh.”

Rombongannya ramai,  jalur yang tadinya tenang jadi sedikit heboh.

Belum selesai excitement itu, hujan mulai turun.

Kami akhirnya berteduh di pos dekat Telaga Biru. Kabut mulai turun tipis, udara makin dingin, dan aroma tanah basah khas pegunungan langsung terasa kuat. Anehnya, justru di situ saya merasa perjalanan ini jadi lengkap.

Walaupun trekking ke Curug Cibeureum tergolong ramah untuk pemula, perlengkapan tetap penting diperhatikan. Saya pribadi menyarankan :

• Memakai sepatu trekking atau sepatu olahraga dengan ukuran sedikit lebih besar sekitar satu size, terutama supaya jari kaki tidak sakit saat perjalanan turun yang cukup menekan ke depan. 

• Jangan lupa bawa jas hujan atau ponco, karena cuaca di kawasan Gunung Gede Pangrango cepat sekali berubah. Waktu kami turun saja hujan tiba-tiba datang tanpa aba-aba. 

• Bawa air minum

• Baju ganti ringan

• dan trekking pole kalau perlu juga cukup membantu, apalagi untuk yang belum terbiasa jalan menanjak cukup lama.












No comments:

Post a Comment