kamunaku.com: Gut-Brain Axis : Pencernaan Sehat Awal Si Kecil Cerdas

Gut-Brain Axis : Pencernaan Sehat Awal Si Kecil Cerdas

Sabtu, 05 April 2014
Pernah ngga mengalami anak susah makan? Saat suapan pertama sih lancar-lancar aja. Anak mau membuka mulutnya. Suapan ke lima mulai agak susah nih. Anak mulai lari sana, lari sini. Dan disuapan ke sepuluh dia menolak makanannya... dan kita pun melancarkan aksi memaksa bahkan dengan mata melotot.
Hal itu sering banget aku alami jika sedang menyuapi Gibe. Senyuman saat berhasil memasukkan sendok makanan akan berubah dengan mata melotot saat ia menolak suapan berikutnya. Menjengkelkan, iya. Tapi mau bagaimana lagi, Gibe kan harus makan. 

Tetapi ternyata, hal tersebut tidak boleh kita lakukan. Mata melotot atau tindakan tekanan lainnya malah akan membuat anak mengalami stres, yang dapat mempengaruhi fungsi saluran cerna. Malah lebih jauh lagi bisa mengganggu otaknya. Waduuh...
"Anak membutuhkan suasana yang menyenangkan saat makan. Jika kegiatan makan dilakukan dalam kondisi penuh tekanan, anak dapat menjadi stres dan hal ini mempengaruhi pola makan dan mengganggu fungsi pencernaannya," jelas Rini Hildayani M.Si. Psychologist, dalam acara peluncuran modul pendidikan Happy Tummy Council versi kedua, Kamis 3 April 2014. Happy Tummy Council adalah sebuah Dewan yang terdiri dari lima pakar kesehatan yang memiliki misi meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat akan pentingnya saluran cerna bagi tumbuh kembang anak.


Hampir semua orang tua mengetahui bahwa usia 0-6 tahun merupakan masa keemasan bagi perkembangan otak seorang anak. Pemahaman orang tua akan golden moment tersebut sangat menentukan keberhasilan tumbuh kembang jangka panjang seorang anak. Tetapi, mengoptimalkan pertumbuhan otak anak dapat dimulai dengan menjaga saluran cerna, sudah banyakkah yang tau? Hhhmmm, aku juga baru tau nih...

Dengan bertajuk Gut-Brain Axiz : Pencernaan Sehat Awal Si Kecil Cerdas, bersama dengan PT. Nestle Indonesia dan  para pakar kesehatan dari Happy Tummy Council, yaitu Dr. Saptawati Bardosono, dr., M.Sc., Rini  Hildayani, M.Si.Psychologist, dan Dr. Ahmad Suryawan, dr. Sp.A(K) berbagi ilmu mengenai pentingnya saluran cerna bagi tumbuh kembang yang optimal. 

Mengapa saluran cerna yang baik itu penting?

Peran Gizi dalam kesehatan saluran cerna
Salah satu cara terbaik untuk menjaga fungsi otak dan syaraf adalah memberikan kedua organ tersebut zat gizi yang esensial. Kebiasaan makan yang tidak baik, ditambah dengan penyerapan makanan yang tidak optimal dapat berperan pada masalah kognitif. Pentingnya asupan gizi yang baik sejak kecil, bahkan sejak masa masa kehamilan akan berpengaruh pada anak di masa datang. Maka itulah penting pemberian ASI. "Selain merupakan makanan terbaik bagi bayi usia 0-6  bulan, ASI secara alami mengandung komponen untuk mendukung daya tahan tubuh seperti antibody, sel imun, serta probiotik seperti Lactobacillus reuteri untuk mendukung kesehatan saluran cerna," demikian penuturan Dr. Tati, selaku pembicara pertama.


Saluran cerna dari aspek psikologis
Setelah memilih asupan gizi yang baik untuk anak (nutrisi), langkah selanjutnya untuk mendukung saluran cerna yang sehat adalah bagaimana perlakuan orangtua terhadap anak (stimulasi).
Anak di usia dua tahun pertama memiliki periode sensitif perkembangan attachment. Dimana anak membutuhkan ikatan emosional yang bertahan, yang ditandai oleh kecenderung mencari dan memelihara kedekatan dengan orang tertentu. Oleh karena itu, kualitas attachment yang sebaiknya diberikan adalah Secure Attachment.

Pembentukan Secure attachment ini dapat dipengaruhi oleh :
Parental Sensitivity, kemampuan orang tua memberi umpan balik yang responsif terhadap tanda-tanda yang ditampilkan bayi/anak. Ini dapat dilakukan dengan menciptakan suasana yang menyenangkan pada saat kegiatan menyusui/pemberian makan.
Menciptakan suasana makan yang menyenangkan bukan berarti membiarkan anak makan sambil menonton tivi atau bermain gadget. Tetapi membuat suasana makan anak menjadi mengasyikkan tanpa mengalihkan proses belajar makan anak. Misalnya, sambil membuat gulungan pasta, membelah-belah potongan lauk makannya, dan sebagainya.

* Sentuhan dalam bentuk pijatan. Memijat bayi yang dilakukan oleh orangtuanya sendiri merupakan salah satu bentuk kontak fisik/sentuhan yang positif. Ini juga merupakan bentuk komunikasi antara orangtua dan anak.

Ibu Rini Hildayani yang memberikan penjelasan dari aspek psikologis ini menekakan bahwa untuk mendukung saluran cerna yang sehat, orangtua wajib menjaga kelekatan hubungan dengan anak, dan beriteraksi aktif dengan anak. Orangtua wajib memberi umpan balik yang responsif terhadap tanda-tanda yang ditampilkan anak. Kenali dengan baik temperamen anak. Karena ada anak dengan temperamen easy child (mudah merespon); difficult child (sulit mencoba hal baru); dan slow to warm up child (butuh waktu, tapi tidak sesulit difficult child)

Rini Hildayani M.Si Psychologist
Pembicara terakhir talkshow ini Dr. Ahmad Suryawan, dr. Sp.A(K), yang membahas impact dari kedua bahasan dua narasumber sebelumnya. Bahwa betapa pentingnya pembentukan anak pada usia 6 tahun kebawah. Ada dua hal penting, yaitu Nutrisi dan Stimulasi, tidak dapat dipisahkan dalam masa pembentukan tersebut.
Nutrisi akan bisa masuk ke dalam otak anak melalui saluran cerna yang sehat, sedangkan stimulasi akan masuk ke otak anak melalui organ sensoris. Dan Gut-Brain Axis merupakan jalur komunikasi dua arah antara otak dan saluran cerna. Saluran cerna tidak hanya berfungsi untuk menampung nutrisi, namun jga mampu mempengaruhi sinyal di otak melalui microbiota di usus.

Dr. Ahmad Suryawan, dr. Sp.A(K)
Senang bisa hadir di acara peluncuran Happy Tummy Council versi kedua ini. Banyak ilmu yang didapat dari sini. Di acara penutup, dokter Wawan berpesan, "Don't be afraid to be an active mommy."
Sebuah kalimat yang menekankan kepada kaum ibu, baik ibu bekerja maupun rumah tangga agar selalu berusaha memperkaya pengetahuan dan pemahaman tentang perkembangan anak (child development).
"Happy Child - Happy Tummy"
Pakar Kesehatan Happy Tummy Council


10 komentar:

  1. baca ini jadi inget,sering lihat anak ibu kos dimarahin terus kalao mau makan hehe..informatif ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku juga sering marahin sikecil dulu, tp setelah tau ini...ga mau deh marah dan maksa2 anak saat makan :)

      Hapus
  2. Nice sharing, makasih infonya Makwi kmn syg bgt aku berhalangan hadir. Eh, ada yng ulang tahun ya ? happy b'day teteh...smg berkah diusianya ya *kiss

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih, Nengnong cantik. Sehat selalu ya, mak Ir...:*

      Hapus
  3. Nice report. Infonya nggak di sharing yah? Kok aku nggak tahu ada kegiatan ini? #SudahDiblokirNamaGue

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihihi...diblokir siapa, mak Icha? Bukannya udah slesai masalahnya?

      Hapus
  4. Balasan
    1. sama-sama, mak Lidya. Makasih udah berkunjung...:)

      Hapus
  5. saya blm nulis untuk yang ini. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku kerajinan ya, mak...Mumpung blm ilang catatannya ;D

      Hapus