kamunaku.com: Workshop Doodle di atas Daluang Museum Tekstil

Workshop Doodle di atas Daluang Museum Tekstil

Sabtu, 10 Desember 2016


Daluang adalah kulit kayu yang pada jaman dulu biasa di jadikan kain pakaian. Kulit kayu yang dipakai adalah kulit kayu yang berasal dari pohon pilihan. Untuk menjadi selembar kain biasanya kulit kayu tersebut akan dipukul2 hingga tipis kemudian di jemur hingga kering. Yang membuatnya pun orang2 tua sepuh. Orang-orang jaman dulu menggunakan kain kulit kayu ini sebagai pakaian sehari-hari. Kain kulit kayu ini sudah menjadi bahan pokok. Bahkan dalam meminang gadisseorang laki-laki harus mempunyai kain kulit kayu sebagai syarat boleh meminang.
Demikian penjelasan Bapak Usmayadi,, Asisten Deputi Bidang Kebudayaan DKI, dalam acara Workshop Doodle di atas Daluang, 1 Desember lalu.


Acara yang diadakan di Museum Textil, Jakarta ini merupakan acara penutup dari rangkaian acara Beaten Bark Exhibition yang telah berlangsung beberapa hari sebelumnya. Bulan lalu Museum Tekstil ini menerima beberapa perwakilan berbagai negara dan propinsi yang ingin melihat koleksi kain kulit kayu Indonesia. Pada pameran beaten bark dipamerkan berbagai bentuk dan jenis kain kulit kayu dari berbagai daerah di Indonesia dari masa lalu hingga masa modern. .


sumber : Dinas Pariwisata & Kebudayaan DKI Jakarta 

Ini pertama kalinya aku mengunjungi museum textil. Jujur, sebenarnya aku malah baru mengetahui kalau ada museum textil (kuper kebangetan 😢). 
Museum textil ini berada di dekat stasiun Tanah Abang.  Di jl. Aipda K.S. Tubun, No. 4 Kel.Petamburan, Kec. Tanah Abang Jakarta Barat. 

Mengutip dari website Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta, inti dari bangunan Museum Tekstil dibangun pada awal abad ke-19 oleh seorang Prancis dan kemudian dijual kepada Abdul Aziz Al Mussawi Katiri Konsul Turki di Jakarta. Pada awal 1945 digunakan sebagai markas dari "Perintis Front Pemuda" dan Angkatan Pertahanan Sipil dalam perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan yang baru diproklamasikan Indonesia. 
Pada tahun 1947 properti dimiliki oleh Lie Sion Pin yang disewakan kepada Departemen Sosial yang diubah menjadi sebuah lembaga untuk orang tua. Pada tahun 1962 properti diakuisisi oleh Departemen Sosial. Hingga, pada tahun 1975 secara resmi diserahkan kepada Pemerintah DKI Jakarta Kota oleh Menteri Sosial. Kemudian Gubernur Ali Sadikin memutuskan bangunan ini dijadikan tempat untuk dilestarikan tradisi tekstil Indonesia. Lahirlah Museum Tekstil ini.


ki-ka : Bpk.Usmayadi, Tanti Amelia, Ibu Esti Utami, Astri Damayanti, Nova, prof. Sakamoto

Acara Workshop Doodle di atas Daluang ini menggandeng Kartini bluebird yang memang sering mengadakan workshop2 kreatif. Workshop ini sendiri dimaksudkan untuk mengangkat kerajinan yang dibuat dari kulit kayu, dikenal dengan nama Daluang atau Fuya atau Tapa. Menurut mba Nova dari Kartini Bluebird, Kartini Bluebird mendukung upaya dalam pelestarian kain kulit kayu melalui workshop doodle menggunakan kulit kayu ini.  

Pada kesempatan ini disampaikan juga pemberian cenderamata berupa lukisan kain daluang kepada Asisten Deputi Bidang Kebudayaan DKI Jakarta,  kepada Prof. Sakamoto (Ahli Kertas dari Jepang), dan  kepada Kepala Museum Seni (Ibu Esti Utami).

Kemudian acara berlanjut dengan doodle bersama Tanti Amelia dengan media daluang. Sambil peserta workshop melukis, kami dijelaskan kembali apa itu daluang dan sejarahnya..

Daluang sebenarnya sebutan untuk kain kulit kayu di pulau Jawa. Entah, mungkin karena berasal dari kata "druwang" yang artinya "kertas". Di pulau Jawa, kebudayaan daluang memang lebih dikenal sebagai media menulis, Ini terlihat dari penemuan-penemuan naskah jaman dahulu yang banyak dituliskan di atas daluang. 
Sedangkan di Sulawesi Tengah kain kulit kayu ini disebut Fuya. Di Sulawesi Tengah sendiri, kebudayaan kain kulit kayu sudah ada sejak jaman bangsa Austronesia melakukan pengembaraan dari China ke Macaw. Dan itu sudah sejak ribuan tahun yang lalu.

Bukti bahwa sudah sejak jaman dulu kala kulit kayu tidak hanya untuk pakaian/fashion tapi juga digunakan sebagai material manuskrip di Indonesia. Saampai saat ini pun masih dilakukan pembuatan kain kulit kayu. Namun pembuatan kain kalit kayu ini hanya dilakukan oleh para perempuan2 yang sudah sepuh/tua. Kkulit kayu yang biasa dipakai adalah kulit kayu dari pohon beringin, malo, atau saeh. Pembuatannya sekitar seminggu, atau tergantung dari pohon asal ulit kayu yang dipilih.

Saat ini Indonesia merupakan satu satunya negara yang memiliki warisan kulit kayu dan masih memproduksi kain kulit kayu. Ini sangat membanggakan. Karena merupakan asset bangsa yang bisa mendatangkan devisa bagi negara. 
Kain kulit kayu bisa menjadi kerajinan yang memiliki seni tinggi. A[alagi bila dibuat dengan teknil pewarnaan yang bagus dan penggunaan motif tertentu khas daerah Indonesia. Selain menjadi penarik wisata, juga menjadi fashion khas Indonesia. Dapat dijadikanbaju/pakaian, tas/dompet, lukisan, dan sebagainya.
Oleh karena itu, melalui acara ini museum tekstil mengajak para pelaku kreatif untuk berkreasi dengan penggunaan kulit kayu. 


latar belakangku adalah kain kulit kayu

hasil doodle di atas kulit kayu

Sumber :
Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta
http://www.kriya-indonesia.com/2016/12/mengenal-fuya-tapa-dan-daluang.html


3 komentar: