kamunaku.com: April 2014

Wordless Wednesday: Mister Laba Laba

Rabu, 16 April 2014







WW: April 9, 2014 (The Election Day)

Rabu, 09 April 2014
Alamak, he's still there?

Whatever u'r choise...

use u'r vote...for a better Indonesia

Gut-Brain Axis : Pencernaan Sehat Awal Si Kecil Cerdas

Sabtu, 05 April 2014
Pernah ngga mengalami anak susah makan? Saat suapan pertama sih lancar-lancar aja. Anak mau membuka mulutnya. Suapan ke lima mulai agak susah nih. Anak mulai lari sana, lari sini. Dan disuapan ke sepuluh dia menolak makanannya... dan kita pun melancarkan aksi memaksa bahkan dengan mata melotot.
Hal itu sering banget aku alami jika sedang menyuapi Gibe. Senyuman saat berhasil memasukkan sendok makanan akan berubah dengan mata melotot saat ia menolak suapan berikutnya. Menjengkelkan, iya. Tapi mau bagaimana lagi, Gibe kan harus makan. 

Tetapi ternyata, hal tersebut tidak boleh kita lakukan. Mata melotot atau tindakan tekanan lainnya malah akan membuat anak mengalami stres, yang dapat mempengaruhi fungsi saluran cerna. Malah lebih jauh lagi bisa mengganggu otaknya. Waduuh...
"Anak membutuhkan suasana yang menyenangkan saat makan. Jika kegiatan makan dilakukan dalam kondisi penuh tekanan, anak dapat menjadi stres dan hal ini mempengaruhi pola makan dan mengganggu fungsi pencernaannya," jelas Rini Hildayani M.Si. Psychologist, dalam acara peluncuran modul pendidikan Happy Tummy Council versi kedua, Kamis 3 April 2014. Happy Tummy Council adalah sebuah Dewan yang terdiri dari lima pakar kesehatan yang memiliki misi meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat akan pentingnya saluran cerna bagi tumbuh kembang anak.


Hampir semua orang tua mengetahui bahwa usia 0-6 tahun merupakan masa keemasan bagi perkembangan otak seorang anak. Pemahaman orang tua akan golden moment tersebut sangat menentukan keberhasilan tumbuh kembang jangka panjang seorang anak. Tetapi, mengoptimalkan pertumbuhan otak anak dapat dimulai dengan menjaga saluran cerna, sudah banyakkah yang tau? Hhhmmm, aku juga baru tau nih...

Dengan bertajuk Gut-Brain Axiz : Pencernaan Sehat Awal Si Kecil Cerdas, bersama dengan PT. Nestle Indonesia dan  para pakar kesehatan dari Happy Tummy Council, yaitu Dr. Saptawati Bardosono, dr., M.Sc., Rini  Hildayani, M.Si.Psychologist, dan Dr. Ahmad Suryawan, dr. Sp.A(K) berbagi ilmu mengenai pentingnya saluran cerna bagi tumbuh kembang yang optimal. 

Mengapa saluran cerna yang baik itu penting?

Peran Gizi dalam kesehatan saluran cerna
Salah satu cara terbaik untuk menjaga fungsi otak dan syaraf adalah memberikan kedua organ tersebut zat gizi yang esensial. Kebiasaan makan yang tidak baik, ditambah dengan penyerapan makanan yang tidak optimal dapat berperan pada masalah kognitif. Pentingnya asupan gizi yang baik sejak kecil, bahkan sejak masa masa kehamilan akan berpengaruh pada anak di masa datang. Maka itulah penting pemberian ASI. "Selain merupakan makanan terbaik bagi bayi usia 0-6  bulan, ASI secara alami mengandung komponen untuk mendukung daya tahan tubuh seperti antibody, sel imun, serta probiotik seperti Lactobacillus reuteri untuk mendukung kesehatan saluran cerna," demikian penuturan Dr. Tati, selaku pembicara pertama.


Saluran cerna dari aspek psikologis
Setelah memilih asupan gizi yang baik untuk anak (nutrisi), langkah selanjutnya untuk mendukung saluran cerna yang sehat adalah bagaimana perlakuan orangtua terhadap anak (stimulasi).
Anak di usia dua tahun pertama memiliki periode sensitif perkembangan attachment. Dimana anak membutuhkan ikatan emosional yang bertahan, yang ditandai oleh kecenderung mencari dan memelihara kedekatan dengan orang tertentu. Oleh karena itu, kualitas attachment yang sebaiknya diberikan adalah Secure Attachment.

Pembentukan Secure attachment ini dapat dipengaruhi oleh :
Parental Sensitivity, kemampuan orang tua memberi umpan balik yang responsif terhadap tanda-tanda yang ditampilkan bayi/anak. Ini dapat dilakukan dengan menciptakan suasana yang menyenangkan pada saat kegiatan menyusui/pemberian makan.
Menciptakan suasana makan yang menyenangkan bukan berarti membiarkan anak makan sambil menonton tivi atau bermain gadget. Tetapi membuat suasana makan anak menjadi mengasyikkan tanpa mengalihkan proses belajar makan anak. Misalnya, sambil membuat gulungan pasta, membelah-belah potongan lauk makannya, dan sebagainya.

* Sentuhan dalam bentuk pijatan. Memijat bayi yang dilakukan oleh orangtuanya sendiri merupakan salah satu bentuk kontak fisik/sentuhan yang positif. Ini juga merupakan bentuk komunikasi antara orangtua dan anak.

Ibu Rini Hildayani yang memberikan penjelasan dari aspek psikologis ini menekakan bahwa untuk mendukung saluran cerna yang sehat, orangtua wajib menjaga kelekatan hubungan dengan anak, dan beriteraksi aktif dengan anak. Orangtua wajib memberi umpan balik yang responsif terhadap tanda-tanda yang ditampilkan anak. Kenali dengan baik temperamen anak. Karena ada anak dengan temperamen easy child (mudah merespon); difficult child (sulit mencoba hal baru); dan slow to warm up child (butuh waktu, tapi tidak sesulit difficult child)

Rini Hildayani M.Si Psychologist
Pembicara terakhir talkshow ini Dr. Ahmad Suryawan, dr. Sp.A(K), yang membahas impact dari kedua bahasan dua narasumber sebelumnya. Bahwa betapa pentingnya pembentukan anak pada usia 6 tahun kebawah. Ada dua hal penting, yaitu Nutrisi dan Stimulasi, tidak dapat dipisahkan dalam masa pembentukan tersebut.
Nutrisi akan bisa masuk ke dalam otak anak melalui saluran cerna yang sehat, sedangkan stimulasi akan masuk ke otak anak melalui organ sensoris. Dan Gut-Brain Axis merupakan jalur komunikasi dua arah antara otak dan saluran cerna. Saluran cerna tidak hanya berfungsi untuk menampung nutrisi, namun jga mampu mempengaruhi sinyal di otak melalui microbiota di usus.

Dr. Ahmad Suryawan, dr. Sp.A(K)
Senang bisa hadir di acara peluncuran Happy Tummy Council versi kedua ini. Banyak ilmu yang didapat dari sini. Di acara penutup, dokter Wawan berpesan, "Don't be afraid to be an active mommy."
Sebuah kalimat yang menekankan kepada kaum ibu, baik ibu bekerja maupun rumah tangga agar selalu berusaha memperkaya pengetahuan dan pemahaman tentang perkembangan anak (child development).
"Happy Child - Happy Tummy"
Pakar Kesehatan Happy Tummy Council


Lobak Sumber Probiotik

Penggunaan lobak dalam masakan sepertinya tidak terlalu populer. Setauku hanya soto mie bogor dan soto bandung yang menggunakan lobak dalam sajiannya. Tetapi kalau di Jepang, hampir di setiap masakan mereka disisipi lobak. Entah karena memang mereka menggemari sayuran ini atau ada alasan lain. Yang jelas, sebuah studi penelitian mencatat bahwa jumlah kandungan bakteri Lactobacilla reuteri sama banyak dengan lactobacili pada usus orang Jepang.

Lactobacilla reuteri adalah salah satu probiotik yang terdapat pada ASI. Asupan bakteri baik atau probiotik yang ada di saluran cerna alamiah seperti lactobacillus reuteri terbukti dapat mengurangi berbagai gangguan pencernaan seperti kembung, kolik, konstipasi, dan diare. Dengan memiliki saluran cerna yang sehat, anak dapat menyerap nutrisi secara optimal dan menggunakannya untuk pertumbuhan fisik dan perkembangan otak yang optimal. Dan ternyata sayuran lobak itu merupakan sumber probiotik. Demikian penjelasan pakar gizi medik Dr. Saptawati Bordosono dr.M.Sc dalam talkshow Gut-Brain Axis : Pencernaan Sehat Awal Si Kecil Cerdas.


Dan pagi ini, semangkuk Sop Lobak sederhana menemani sarapan pagi anak-anak. Coba deh dengan resep sendiri.