kamunaku.com: Upacara Ngeuyek Seureuh

Upacara Ngeuyek Seureuh

Senin, 06 Januari 2014
Pada hari itu aku mendapat undangan pengajian di acara siraman putri tetangga rumah yang akan menikah. Namanya diundang, ya wajib dateng dong. Kebetulan saat itu aku juga tidak ada rencana bepergian. Ternyata setelah acara siraman, acara selanjutnya adalah upacara Ngeuyeuk seureuh. Bagiku ini menjadi pertama kali menyaksikan acara ngeuyeuk seureuh. Selama hampir 9 tahun tinggal di dataran Sunda, belum pernah menyaksikan upacara adat ini. Karena lokasi rumah berdekatan, aku pun cabut pulang sebentar untuk mengambil kamera.
Upacara Ngeuyek Seureuh merupakan upacara yang biasa dilakukan oleh masyarakat Sunda pada umumnya, namun pelaksanaanya ada sedikit perbedaan, tergantung kebiasaan daerahnya, namun demikian upacara tersebut memiliki fungsi yang sama, yaitu untuk membekali calon pengantin dengan nilai-nilai dalam kehidupan perkawinan.


Perlengkapan upacara ini bermacam-macam, biasanya terdiri dari bahan-bahan dan alat-alat yang mengandung simbol-simbol. Nasehat atau wejangan diberikan oleh pengeuyeuk (seorang wanita tua pemimpin upacara ini) melalui peragaan menggunakan simbol-simbol itu. Perlengkapan ini pun tidak sama disetiap tempat. Sepertinya, keunikan dan menariknya upacara ini tergantung dari bagaimana sang Pengeuyeuk memperagakan dan menjelaskan arti dari perlengkapan yang tersedia.


Diawali dengan pemberian wejangan atau nasehat oleh Pengeuyeuk kepada kedua calon mempelai. Dilanjutkan dengan prosesi antara lain :
  • Menggeprakan sapu lidi (oleh Pengeuyeuk), tanda bahwa kedua mempelai tidak boleh malas dalam menjalankan kewajiban berumah tangga.
  • Membuka kain putih penutup perlengkapan ngeuyeuk seureuh (oleh kedua calon pempelai), sebagai tanda adanya niat suci untuk berumah tangga.
  • Pemberian satu set pakaian dari orangtua mempelai wanita kepada mempelai pria.
  • Membelah mayang atau jambe.
  • Membelah labu.

Itulah kira-kira rangkaian upacara Ngeuyeuk seureuh yang aku saksikan hari itu. Upacara masyarakat Sunda ini patut kita lestarikan, karena selain unik dan menarik, upacara ini juga mengandung pesan yang baik. Kapan lagi mau deh menyaksikan upacara-upacara adat yang lain.

*Foto-foto adalah dokumentasiku saat upacara ngeuyeuk seureuh keluarga Kahar Muzakar-Alphina Dewi


7 komentar:

  1. paling seneng kl lihat acara adat beginian,kalo di jawa siraman manten ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, mak Hanna. Upacara adat itu unik2 ya. Pengennya sih bukan yg mantenan doang taunya. ;)

      Hapus
  2. Aku org sunda malah blom pernah liat lho mak dwina. Pengen liat juga deh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yuk, Mi...kita hunting bareng. :)

      Hapus
  3. aku belum pernah liat. Di keluarga besar papiku udah ga pake adat ini. Alasannya krn ga mau ribet n pertimbangan biaya juga :)
    Foto2nya bagus banget, Mak Dwina ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Papinya sama dg ku, Mak. Males ribet. Waktu pernikahanku malah lgsg hajar bleh :D.

      Hapus
  4. saya suka kalau lihat acara adat seperti ini :)

    BalasHapus