kamunaku.com: Ibu, Cinta Tanpa Akhir

Ibu, Cinta Tanpa Akhir

Minggu, 22 Desember 2013
Ibu. sosok yang hampir selalu dilukiskan indah oleh sejarah. Banyak kisah yang menceritakan tentang istimewanya seorang ibu. Cintanya yang abadi sepanjang waktu. Sejak kita kecil, atau bahkan ketika masih dalam kandungannya, ibu sudah menyambut kita dengan bahagia. Mengelus kita yang berada dalam perutnya, menyusui kita yang menangis kehausan, menuntut ke sekolah pertama kita, bahkan sampai mengancingkan baju kebaya di hari pernikahan kita. Adakah kasih sayang yang terlewatkan oleh kita darinya?

    Beberapa bulan yang lalu, sahabat saya menelpon, meminta saya menemuinya di sebuah restoran. Terdengar nada suaranya tidak seperti biasa. Karena terakhir aku menerima teleponnya dengan nada tak biasa, ketika ia memberitahu mamanya meninggal dunia, itu lima tahun yang lalu. 
    
    Singkatnya, saya berhasil bertemu dengannya. Dia duduk dalam restoran, memilih posisi sofa agak tertutup oleh pengunjung yang masuk dalam restoran itu. Saya pun mungkin tak melihatnya kalau pramusaji restoran itu tidak memberitahu saya.

     Dengan nada datar ia bercerita, bahwa ada seorang perempuan yang mengaku sebagai ibu kandung, setelah satu tahun kematian mamanya. Saat itu saya agak kaget mendengarnya, tapi karena sahabat saya tidak bereaksi apapun, saya memilih diam. Yang saya tau selama ini, sahabat saya itu adalah anak tunggal. Orangtuanya, papa dan mamanya bekerja sebagai pegawai negeri. Saya pernah bertemu mereka. Keluarga yang kelihatannya biasa saja, sama seperti keluarga2 kebanyakan. 
          
      Saat ia bercerita, saya hanya mampu memegang tangannya. Saya tidak tau apa yang harus saya katakan, padahal saya khawatir emosinya memuncak kala ia menangis. Tetapi saat tangisannya mereda, ia hanya bilang,"Semua ibu kan sama ya, Wi."
"Mungkin aku marah ketika perempuan itu mengaku-ngaku sebagai ibu kandungku. Kemana saja ia selama ini? Tapi apakah pantas aku marah? Ia tak menuntut apapun dariku. Atau patut aku benci mamaku, karena sampai ajalnya beliau tak memberitahu yang sebenarnya? Tidak. Beliau yang merawat aku sejak kecil."
     
     "Tapi, masih ada papamu. Kamu bisa bertanya hal yang sebenarnya."
    
     "Aku tak tega menyakiti hati ayah. Biarlah, akan ku rawat ibu ini. Mungkin dia yang telah melahirkanku, walau kemudian memisahkan aku darinya. Akan tetapi pilihannya tepat,  dia menitipkan aku pada mama yang menyanyangiku, aku harus berterimakasih."

      Saya terkesiap. Saya yakin dalam darah sahabat saya mengalir kasih sayang, sama seperti sosok kedua ibunya.
Kadang kita tidak mengerti apa yang dipikirkan oleh orangtua kita, terlebih ibu. Tapi yang pasti, seorang ibu akan selalu mempunyai keputusan yang terbaik buat anaknya. 

Selamat Hari Ibu....

8 komentar:

  1. Setiap orang punya alasan dalam pilihan2 hidupnya, sahabat mb Dwina telah bersikap bijak untuk ttp berbaik sangka kepada orang yg mengaku ibunya. Semoga hidup mereka sekarang damai dan bahagia ya. Selamat hari ibu mak :)

    BalasHapus
  2. Hm...setiap wanita yang memiliki naluri keibuan atau pernah melahirkan seorang anak, Inza Allah dalam hati kecilnya selalu mengingat sang buah hatinya, meskipun suatu hal memisahkan.

    BalasHapus