kamunaku.com: Mengikis Dendam

Mengikis Dendam

Minggu, 07 Juli 2013

google
Siapa sih yang mau dikhianati teman atau sahabatnya? Pastinya tidak ada. Hubungan pertemanan yang sekian lama terjalin harus rapuh dan putus seketika itu juga. . 
Lalu bagaimana menghadapi teman yang berkhianat? Marah sudah pasti dong. Sedih? Jelas! Memaafkan? Hhmm...

Saya mungkin dikenal oleh teman-teman saya sebagai orang yang sabar dan tidak pernah marah. Ada benarnya sedikit sih. Kadang ada hal-hal yang menurut teman-teman saya harus saya marah, saya lebih memilih cuek.
"Kecuekan" itu entah kenapa saya anggap kelebihan. Pembawaan yang saya nikmati hingga beberapa waktu lalu. Ternyata, saya sadari...benar-benar saya sadari, saya punya dendam yang tak pernah selesai pada seorang teman. Hampir lima tahun saya mengenalnya, selama itu pula dia sering membohongi saya. Saya tau kalau saya dibohongi, tapi saya memilih cuek. Hingga sampai pada satu hal yang paling menyakitkan : dia mengadudomba saya dan suami.

Jelas saat itu saya sangat marah dan sakit hati. Dia saya anggap monster yang pantas disiksa sampai akhir hayatnya. Dendam kesumat saya terus saya simpan hampir setahun. Bahkan sampai beberapa hari yang lalu, ketika saya mengetahui bahwa dia adalah.....(maaf, tidak boleh dipertegas).

Bagi saya melakukan investigasi dan mencari tau apa penyebab teman itu berkhianat adalah penting. Pengkhianatan beda dengan kesalahpahaman ya. Dari hasil investigasi ini, kita bisa mengambil tindakan selanjutnya, mau mengakhiri pertemanan atau tetap menerimanya. Misalnya, teman yang selama bertahun-tahun bersikap manis di depan kita, ternyata menyebarkan fitnah di belakang kita, atau teman yang sekian lama bagaikan anak kucing ketika bersama kita ternyata seekor srigala lapar. Mengerikan ya. Nah kalau begitu sih kadar khianatnya sudah tidak bisa ditorelir lagi, ya tinggalkan saja!

Sebagai manusia Allah menciptakan kita dengan sifat-sifat yang berbeda, itu jelas sekali. Tetapi, apakah pemarah dan pendendam termasuk kategori sifat? Marah dan dendam itu bukan sifat melainkan sikap. Sikap itu tindakan yang kita pilih untuk dilakukan.
Marah terhadap teman yang menyakiti kita, itu wajar. Merupakan sikap spontan. Pernah saya marahnya berlebihan, sampai bersumpah "tujuh turunan". Itu biasanya karena sakit pengkhianatannya sudah terlalu dalam. Nah loh, kalau mendendam gini gimana?

Dibutuhkan waktu untuk menenangkan pikiran dan emosi.  Juga pikiran dewasa dan bijaksana untuk mengambil keputusan menghadapi si pengkhianat tadi. Kalau belum bisa memaafkan, setidaknya bersyukurlah kita menyadarinya itu. Jangan berpikir untuk membalasnya.

Ada kutipan bagus begini, -entah berhubungan dengan yang saya tulis di atas atau tidak, tapi saya senang mengingatnya sepanjang hari- :
Apa perbedaan antara orang merugi dengan orang bijaksana?
Orang merugi adalah orang yang tidak berusaha mengenal dirinya sendiri, apalagi berusaha meningkatkan iman dan dirinya menjadi seseorang yang lebih baik.
Sementara, orang yang bijaksana adalah orang yang berusaha mengenal dirinya sambil TERUS BERUSAHA meningkatkan iman dan dirinya menjadi seseorang yang lebih baik sepanjang hidupnya.

Tuh, mau pilih jadi yang mana? Pilih menjadi orang bijaksana dong. Mengetahui dan menyadari kita menyimpan dendam lalu mengikisnya, agar menjadi pribadi yang lebih baik (*uhuk).

Kalau pun pengkhianat itu tidak meminta maaf, ya sebaiknya kita memaafkannya. Memelihara dendam hanya membuat sesak loh. Dan kalau direnungkan, dendam itu hanya membuang energi apalagi untuk orang-orang yang sebenarnya tidak seberapa penting buat hidup kita.
Nah, mumpung sekarang moment terbaik untuk memaafkan semua orang, juga meminta maaf...
Saya ucapkan MOHON MAAF LAHIR BATIN...

Cheer...!! 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar